Platform
  • Cutter
  • Reels
  • Captions Generator
    New
  • Templates
  • Blog
  • Daftar Jadi Seller

Twizz Cutter

Simplifying image editing, one cut at a time.

Product

  • Features
  • Templates
  • Reels

Company

  • Blog
  • Changelog
  • Donate

Resources

  • Support
  • Contact

Legal

  • Privacy
  • Terms

© 2026 Twizz Cutter. All rights reserved.

Back to top ↑
Kembali ke Blog
Design Basics3 min read

Kesalahan Tipografi yang Sering Dilakukan Pemula (Dan Cara Memperbaikinya)

Jangan biarkan desain bagusmu rusak karena teks yang sulit dibaca. Pelajari cara menghindari 4 'dosa besar' tipografi: tracking sempit, terlalu banyak font, line height fatal, dan hierarki yang buruk.

Twizz Studio4 Desember 2025
TypographyDesign MistakesUI/UX BasicsLearn DesignReadability
Kesalahan Tipografi yang Sering Dilakukan Pemula (Dan Cara Memperbaikinya)

Kesalahan Tipografi yang Sering Dilakukan Pemula (Dan Cara Memperbaikinya)

Tipografi itu menjebak. Kelihatannya mudah—tinggal pilih font dari menu dropdown, ketik teksnya, selesai.

Padahal, tipografi adalah tulang punggung dari hampir semua desain grafis dan UI/UX. Jika gambar menarik perhatian, maka tekslah yang menyampaikan pesan dan memastikan audiens betah berlama-lama. Sayangnya, banyak desainer pemula yang merusak desain bagus mereka sendiri dengan eksekusi teks yang buruk.

Berikut adalah empat "dosa besar" dalam tipografi yang paling sering dilakukan pemula, dan cara sederhana untuk memperbaikinya.

1. Tracking (Jarak Antar Huruf) yang Terlalu Rapat

Kesalahan ini sering terjadi karena ingin menghemat ruang atau membuat teks terlihat "padat". Akibatnya, huruf-huruf saling berdempetan hingga sulit dibedakan satu sama lain.

  • Masalahnya: Teks menjadi sangat sulit dibaca, terutama dalam ukuran kecil atau paragraf panjang. Mata pembaca cepat lelah.
  • Solusinya: Berikan ruang bernapas. Untuk teks isi (body text), biarkan tracking pada pengaturan default (0) atau tambahkan sedikit (+10 hingga +20 di beberapa software). Hati-hati, tracking yang terlalu renggang juga sama buruknya!

2. "Banjir Font" (Terlalu Banyak Jenis Font)

Pemula seringkali terlalu antusias dengan koleksi font mereka. Mereka menggunakan font script untuk judul, font slab-serif untuk sub-judul, dan font sans-serif geometris untuk isi, semuanya dalam satu desain.

  • Masalahnya: Desain terlihat kacau, tidak profesional, dan tidak memiliki identitas yang jelas. Seperti menggunakan lima pakaian dengan motif berbeda sekaligus.
  • Solusinya: Terapkan aturan "Maksimal Dua". Pilih satu font yang berkarakter untuk Judul (misalnya: Serif tebal), dan satu font yang mudah dibaca untuk Isi (misalnya: Sans-serif bersih). Konsistensi adalah kunci profesionalitas.

3. Line Height 1.0 (Kesalahan Fatal)

Ini mungkin kesalahan paling umum dan paling merusak keterbacaan. Banyak pemula membiarkan pengaturan leading atau line height (jarak antar baris) pada angka default "Auto" yang seringkali terlalu sempit, atau bahkan diatur manual ke 1.0 (100%).

  • Masalahnya: Baris teks saling menumpuk. Bagian bawah huruf 'g' atau 'y' di baris atas akan menabrak bagian atas huruf 'h' atau 'T' di baris bawahnya. Ini membuat paragraf terlihat sangat sesak dan intimidatif untuk dibaca.
  • Solusinya: Ikuti aturan emas. Untuk teks isi (body text), atur line height antara 1.4x hingga 1.6x dari ukuran font Anda. (Contoh: Font 16px, gunakan line height sekitar 24px).

4. Hierarki Tidak Jelas (Semua Terlihat Sama Penting)

Ketika seorang pemula mendesain poster atau website, seringkali Judul Utama, sub-judul, dan teks penjelas memiliki ukuran dan ketebalan yang hampir sama.

  • Masalahnya: Pembaca bingung harus mulai membaca dari mana dan informasi mana yang paling penting. Jika semuanya "berteriak", tidak ada yang terdengar.
  • Solusinya: Ciptakan kontras yang ekstrem.
    • Judul Utama: Harus paling besar dan paling tebal (Bold/Black).
    • Sub-judul: Ukuran sedang, ketebalan medium.
    • Teks Isi: Ukuran kecil, ketebalan regular, dan mungkin gunakan warna abu-abu tua alih-alih hitam pekat agar tidak terlalu dominan.

"Good typography is invisible."

Tipografi yang baik seharusnya tidak membuat pembaca berpikir tentang fontnya, melainkan fokus pada pesannya. Hindari keempat kesalahan ini, dan desain Anda akan langsung terlihat jauh lebih profesional. ✨




Lihat Artikel Lainnya